Selasa, 27 Oktober 2015
MENIKMATI INDAHNYA PANTAI BUBUNG MANTUAN (SAYAMBONGIN)
ASAL MULA
NAMA BUBUNG MANTUAN
Mendengar
nama Bubung Mantuan, pikiran kita
pasti tertuju di
Desa Sayambongin, karena
tempat ini memang terletak di
Desa Sayambongin tepatnya
perbatasan Desa Sayambongin
dan Desa Padungnyo
Kecamatan Nambo Kabupaten
Banggai.
Dahulu kala di tempat
ini ada sebuah
sumur ( Bubung, bhs.Saluan) tak
jauh dari jalan
raya, tak jelas siapa
sebenarnya yang menggali
sumur tersebut. Kalau
perjalanan dari arah
Luwuk menuju Batui
tempat ini berada
di sisi kanan
jalan. Namun sekarang Sumur
tersebut sudah tidak ditemukan
lagi karena peristiwa alam seperti banjir.
Alkisah ada seorang
serdadu Belanda yang
melewati tempat itu dengan membawa
perbekalan makan ( mantu,
bhs. Saluan) . Beliau sedang
lapar dan hendak
makan namun kehabisan
air. Si Tuan
Belanda ini turun
dari mobilnya dan menemui
seseorang warga kampung
itu yang di kenal dengan Kampung Lontio
( pada
saat itu Sayambongin
dan Padungnyo masih
masuk dalam wilayah
kampung Lontio),
Warga tersebut diketahui
bernama Pakunda, Kemudian si
Meener Belanda bertanya,
“ di mana ada Sungai
disini ? kami mau
makan tapi tidak
ada air” Karena
Pakunda tidak
bisa berbahasa Melayu dengan
baik dan benar dengan
entengnya dia menjawab “
di sini Cuma ada
air di keke tapi
hebok” yang artinya
kurang lebih “ di
sini Cuma ada
air yang di
gali tapi keruh “ .
Serdadu
Belanda minta di antar
ke tempat air tersebut karena
dia sangat membutuhkannya, setelah
melihat-lihat sumur dia
berfikir air ini
layak untuk di
minum maka beristrahatlah si
Belanda untuk makan
perbekalan dan meminum
air yang di
ambil dari sumur itu. Sesudah
makan Serdadu Belanda
melanjutkan Perjalanan lagi.
Untuk
mengenang Kisah Pertemuan
Pakunda dan Serdadu Belanda yang makan perbekalan
di Sumur itu, maka Pakunda memberi
nama Sumur tersebut
dengan nama “Bubung
Mantuan” yang artinya
kurang lebih sumur
yang dipergunkan Tuan
untuk makan perbekalan. (Bubung
= Sumur, Mantu = perbekalan dan Tuan
sebutan untuk Orang
Belanda)
Sejak
Peristiwa itu hingga
sekarang tempat sumur tersebut dikenal
dengan Kompleks “Bubung
Mantuan”
Catatan :
Seperti
diceritakan oleh Bapak
Sahali Ahajab kepada penulis
Dongeng tersebut
diatas hanyalah sebatas
Dongeng pengantar Tidur,
penulis tidak bermaksud
untuk membuktikan sejarah manapun
dan apapun.Senin, 26 Oktober 2015
PESONA ALAM BAWAH LAUT SAYAMBONGIN
Indahnya terumbu Karang Sayambongin
Bingung week end mo ke mana ? Jalan - jalan ke Sayambongin Yuk !!!
Bingung week end mo ke mana ? Jalan - jalan ke Sayambongin Yuk !!!
Tempatnya mudah di cari, kalu dari Bandara Syukuran Aminudin Luwuk cuma sekitar 10 Km arah selatan, pokoknya depe Desa ada di perbatasan antara Kecamatan Kintom deng Kecamatan Nambo, Desa so paling ujung di Kecamatan Nambo, Soal masyarakatnya te usah khawatir pambae samua , suka baku sedu !
Supaya kamu orang percaya di Sayambongin ada Terumbu karang yang gagah-gagah, ini saya upload akan depe photo !!!
LESTARIKAN CERITA RAKYAT SALUAN
Cerita Rakyat Suku Saluan (undu-unduon)
ASAL MULA NAMA PULAU TIKUS
Dinamakan Pulau Tikus karena menurut cerita rakyat suku Saluan, bahwa pada zaman dahulu tersebutlah tiga ekor binatang yang saling bersahabat. Mereka adalah kera (balan), burung elang / garuda (manu-manuk lansamak) dan tikus (bokoti).
“ Hai sobat dari bingung,... lebih baik mari kita mencari ikan di laut “ kata Kera
“ Tapi pakai apa ke sana ?, kalau aku tidak masalah kan bisa terbang “ sela burung elang
“ gampang.... kita buat perahu dari tebu” sambung tikus
“ Pintar kamu tikus “ jawab kera memuji tikus.
Berangkatlah mereka bertiga ke Pulau peling dengan menggunakan Perahu tebu dan berbekal Pisang Louwe. Pulau pertama yang dikunjungi adalah Pulau Tataba
“ Ayo burung elang menyelam cari ikan “ Perintah kera
“ Oke...... sobat siapa takut “ jawab burung elang sambil mencebur kedalam air laut.
“ Eh sobat gimana nih perahunya sudah penuh “ tanya burung elang
“ Begini kebetulan perut sudah lapar, bagaimana kalau kita makan dulu “ tikus memberi ide.
“ ide yang bagus, itu yang aku tunggu – tunggu dari tadi” kera menyela
“ Huu dasar monyet kerjanya makan melulu pantasan jadi musuh pak tani” Tikus sewot dengan ucapan kera
“ Sama... kamu juga musuh pak tani ha ha ha ha “ kera membela diri
“ Sudah- sudah jangan bertengkar nih pisangnya “ burung elang menengahi sambil menyerahkan pisang pada kera dan tikus.
Sesudah makan pisang mereka sembarangan membuang kulitnya, sehingga konon Pulau Tataba dimana mereka membuang kulit Pisang tersebut tumbulah Pohon pisang dan kini terkenal dengan penghasil Pisang Louwe.
“Untuk selanjutnya, kita kemana ? mau pulang atau.... ? “ tanya burung elang
“Kita berlayar dulu untuk mencari tempat yang aman” jawab kera
“ Oh iya kebetulan didepan itu ada ada pulau kecil, saya pikir itu aman untuk kita membakar ikan ini biar tidak terlalu berat dibawa pulang “ tikus menyela
Tiba di Pulau kecil tersebut sudah tengah hari, kemudian mereka berbagi tugas.
Selanjutnya mereka menjalankan tugas masing-masing dengan penuh semangat. Karena panasnya ditepi pantai tikus mencari akal.
“Ah hari ini sangat panas, haus lagi alangkah senangnya si kera bisa makan ikan, tempatnya terlindung lagi dia pasti kekenyangan dan akhirnya tertidur” pikir tikus
“Aku ada akal, aku sembunyi dibawah perahu ini biar tidak kepanasan dan aku akan gigit perahu ini biar kuhisap air tebunya, lumayan kan bisa mengobati hausku, ha .... ha .... ha... toh kera dan burung elang tak bakal tahu.
Bersembunyilah tikus dibalik perahu dan sedikit demi sedikit menggigit bawah perahu untuk mengambil sari tebunya, tanpa ia sadari kalau perahu telah bocor.
Hari telah menjelang sore, burung elang tiba dengan hasil tangkapannya yang cukup banyak, sementara kera juga telah datang dengan ikan yang telah dibakar.
“ Oke kita pulang, ikan yang kita peroleh sekarang cukup untuk makan selama sebulan “ kata kera
“ pasti pak Tani akan senang karena kita tak mencuri lagi hasil kebunnya “ sambung Tikus
“ yang pencuri kalian berdua, aku kan tidak “ sela burung elang
“ Sama saja, kami berdua musuh Pak tani, kamu sendiri musuh Pak nelayan ha .. ha.. ha..ha “ tikus membela diri
Sejak peristiwa itu Tikus menjadi penghuni Pulau kecil ters
ebut yang semula belum dikenal, sehingga terciptalah nama “ Pulau Tikus “ sedang ikan-ikan hasil tangkapan mereka telah hidup dsekitarnya, sehingga pulau tikus dikenal banyak ikannya sedang pasirnya yang putih disebabkan karena getah perahu tebu yang terdampar dipantai.
Demikianlah cerita Dongeng dari suku Saluan.
Pesan Moral :
Siapa yang teledor dia sendiri yang merasakan akibatnya
Seperti tokoh si Tikus
Catatan :
Dongeng tersebut diatas hanyalah sebatas Dongeng pengantar Tidur, penulis tidak bermaksud untuk membuktikan sejarah manapun dan apapun.
Terima kasih yang so singgah di blog ku
Sampe jumpa lagi di dongeng berikutnya.
Langganan:
Postingan (Atom)













