Cerita Rakyat Suku Saluan (undu-unduon)
ASAL MULA NAMA PULAU TIKUS
Dinamakan Pulau Tikus karena menurut cerita rakyat suku Saluan, bahwa pada zaman dahulu tersebutlah tiga ekor binatang yang saling bersahabat. Mereka adalah kera (balan), burung elang / garuda (manu-manuk lansamak) dan tikus (bokoti).
“ Hai sobat dari bingung,... lebih baik mari kita mencari ikan di laut “ kata Kera
“ Tapi pakai apa ke sana ?, kalau aku tidak masalah kan bisa terbang “ sela burung elang
“ gampang.... kita buat perahu dari tebu” sambung tikus
“ Pintar kamu tikus “ jawab kera memuji tikus.
Berangkatlah mereka bertiga ke Pulau peling dengan menggunakan Perahu tebu dan berbekal Pisang Louwe. Pulau pertama yang dikunjungi adalah Pulau Tataba
“ Ayo burung elang menyelam cari ikan “ Perintah kera
“ Oke...... sobat siapa takut “ jawab burung elang sambil mencebur kedalam air laut.
“ Eh sobat gimana nih perahunya sudah penuh “ tanya burung elang
“ Begini kebetulan perut sudah lapar, bagaimana kalau kita makan dulu “ tikus memberi ide.
“ ide yang bagus, itu yang aku tunggu – tunggu dari tadi” kera menyela
“ Huu dasar monyet kerjanya makan melulu pantasan jadi musuh pak tani” Tikus sewot dengan ucapan kera
“ Sama... kamu juga musuh pak tani ha ha ha ha “ kera membela diri
“ Sudah- sudah jangan bertengkar nih pisangnya “ burung elang menengahi sambil menyerahkan pisang pada kera dan tikus.
Sesudah makan pisang mereka sembarangan membuang kulitnya, sehingga konon Pulau Tataba dimana mereka membuang kulit Pisang tersebut tumbulah Pohon pisang dan kini terkenal dengan penghasil Pisang Louwe.
“Untuk selanjutnya, kita kemana ? mau pulang atau.... ? “ tanya burung elang
“Kita berlayar dulu untuk mencari tempat yang aman” jawab kera
“ Oh iya kebetulan didepan itu ada ada pulau kecil, saya pikir itu aman untuk kita membakar ikan ini biar tidak terlalu berat dibawa pulang “ tikus menyela
Tiba di Pulau kecil tersebut sudah tengah hari, kemudian mereka berbagi tugas.
Selanjutnya mereka menjalankan tugas masing-masing dengan penuh semangat. Karena panasnya ditepi pantai tikus mencari akal.
“Ah hari ini sangat panas, haus lagi alangkah senangnya si kera bisa makan ikan, tempatnya terlindung lagi dia pasti kekenyangan dan akhirnya tertidur” pikir tikus
“Aku ada akal, aku sembunyi dibawah perahu ini biar tidak kepanasan dan aku akan gigit perahu ini biar kuhisap air tebunya, lumayan kan bisa mengobati hausku, ha .... ha .... ha... toh kera dan burung elang tak bakal tahu.
Bersembunyilah tikus dibalik perahu dan sedikit demi sedikit menggigit bawah perahu untuk mengambil sari tebunya, tanpa ia sadari kalau perahu telah bocor.
Hari telah menjelang sore, burung elang tiba dengan hasil tangkapannya yang cukup banyak, sementara kera juga telah datang dengan ikan yang telah dibakar.
“ Oke kita pulang, ikan yang kita peroleh sekarang cukup untuk makan selama sebulan “ kata kera
“ pasti pak Tani akan senang karena kita tak mencuri lagi hasil kebunnya “ sambung Tikus
“ yang pencuri kalian berdua, aku kan tidak “ sela burung elang
“ Sama saja, kami berdua musuh Pak tani, kamu sendiri musuh Pak nelayan ha .. ha.. ha..ha “ tikus membela diri
Sejak peristiwa itu Tikus menjadi penghuni Pulau kecil ters
ebut yang semula belum dikenal, sehingga terciptalah nama “ Pulau Tikus “ sedang ikan-ikan hasil tangkapan mereka telah hidup dsekitarnya, sehingga pulau tikus dikenal banyak ikannya sedang pasirnya yang putih disebabkan karena getah perahu tebu yang terdampar dipantai.
Demikianlah cerita Dongeng dari suku Saluan.
Pesan Moral :
Siapa yang teledor dia sendiri yang merasakan akibatnya
Seperti tokoh si Tikus
Catatan :
Dongeng tersebut diatas hanyalah sebatas Dongeng pengantar Tidur, penulis tidak bermaksud untuk membuktikan sejarah manapun dan apapun.
Terima kasih yang so singgah di blog ku
Sampe jumpa lagi di dongeng berikutnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar